Hello guys, long time no see.. Kalau tiba-tiba saya yang mendapat ide segar ini bertanya, “Siapakah orang yang beruntung itu?”, maka saya yang mendapat ide segar ini akan menjawab, “Orang yang sadar.. sadar kalau dirinya berada dalam akselerasi” Akselerasi apakah gerangan?? (kalau intelegensia anda tidak cukup mampu mengerti apa itu akselerasi, artinya percepatan.. kalau nggak ngerti juga, artinya perubahan kecepatan per satuan waktu) Berawal dari waktu yang tidak jelas, tapi oleh T.S. Ashton dituliskan kira-kira 1760-1830 (pake kira-kira lagi, garuk-garuk…) di Inggris sono Pak James Watt merebus aer (nggak tau pake kayu bakar, pake minyak tanah, apa pake kompor gas pembagian BLT). Uap panasnya digunakan sebagei penggerak mesin sederhana, kemudian disebut “Mesin Uap”. Bermula dari mesin uap inilah, otot manusia yang sejak zaman Adam digunakan secara intensif, mulai digantikan oleh alat-alat mekanik. Naaah, tepat sekali setahun setelah tahun 1830, yaitu 1831 sampai 1832, Michael Faraday menemukan cikal bakal generator listrik. Kemudian didukung oleh galian pak Edwin Drake yang menghasilkan cikal bakal minyak dan gas bumi yang digali dengan sengaja, di sinilah Sang Jaman memulai start percepatan itu. Bagaikan lari-lari dikejar hantu jamu gendong, peradaban pun bergeser dengan percepatan yang luar biasa. Bayangkan, sejak awal adanya bumi sampai awal revolusi industri, mother earth seakan stagnan, peperangan dengan pedang, kuda, otot, bertani, tidak ada perubahan berarti. Yah, teknologi mulai menjadi kata-kata yang sangat familiar. Electrical dependency mewabah, silicon valley mulai menggeliat dari tidur panjangnya... Permukaan Es di kutub utara pun menyusut 2 juta kilometer persegi hanya dalam kurun waktu 20 tahun.. Well, enough for the acceleration. Yang pengen saya bilang di sini, ada dua jenis manusia yang hidup di jaman percepatan ini. Pertama, manusia yang sama dengan manusia-manusia jaman purba, manusia jaman stagnan, yang beruntung karena lahir di jaman percepatan, sehingga mereka bisa membuat account Facebook, memasang status tiap jam. Men-scroll bleh-beri-beri, maen game di I Phone, memakai dan bangga memakai merk-merk Armani, Louis Vuitton, Edward Forrer. Orang-orang yang kebetulan lahir di tempat dimana Taj Mahal atau Menara Petronas berdiri, dan merasa bahwa barang-barang spektakuler itu miliknya karena ia lahir di dekat barang-barang itu. Lan sapanunggalane. Golongan manusia kedua, adalah si Mark Zuckenberg, Faraday, Drake, Schrodinger, Bohr, Einstein, Giorgio Armani, Louis Vuitton, yang relative lebih bangga ketika hasil kerjanya digunakan oleh orang-orang golongan pertama. Yang menjadikan jaman ini jaman percepatan. Yup, the choice is in your hands, mau jadi desainer peradaban atau mau jadi user peradaban yang sebenarnya tidak beda jauh dengan Pithecantropus yang menggunakan kapak perimbas. Saya sedang melangkah untuk menjadi orang-orang golongan kedua. Saya bocorin ya, kalau gaji bulanan yang saya kumpulkan sudah cukup, saya akan mempelajari struktur kimia dari taik kucing. Beneran!! Taik kucing. Mengapa kok taik kucing? Agar saya bisa putus rantai senyawa yang bikin taik kucing itu bau. Just it! Sumpah! Terus-terus? Yaa.. kalau sudah tidak bau kan tinggal diolesin coklat, dibungkus kayak permen, lalu diiklanin di TV dengan bintang Luna Maya, Julie Estelle, Bob Sadino, kalau perlu David Beckham.. Dan dijual dengan harga sedikit diatas harga menengah, tapi masih terjangkau.. Terus, buat apa?? Pake nanya lagi, ya biar orang-orang golongan pertama yang cuma bisa bangga kalo memakai apa yang dipakai orang kaya itu makan taik kucing rasa coklat. Just it!! Sumpah!! Biar mereka merasa bangga telah makan permen coklat seperti yang dimakan Luna Maya dan kawan-kawannya, sementara diantara kebanggaannya itu saya bisa tertawa terbahak-bahak melihat jutaan orang makan taik kucing.. Hmm.. setelah baca tulisan saya yang mendapat ide segar ini, apakah anda masih berpikir kalau orang yang punya pikiran seperti paragraph diatas cuma saya?? Bagaimana kalau orang-orang yang saya sebut di atas juga berpemikiran seperti saya? Hehehehehe..Just feel the taik kucing rasa coklat!! Sumber: google dan wikipedia
 | 3019 | Oct 20, '08 8:06 AM for everyone |
Hari Kamis pagi, di kubikal yang baru kuhuni kurang dari dua minggu aku mendengar percakapan salah seorang senior di kantor baruku. Sesaat kemudian, temanku yang ikut nimbrung percakapan itu mampir di kubikal dan bertanya, "Suka naik gunung nggak? tadi diajakin naik Pangrango". Lalu aku balik bertanya, "Kapan?". "Sabtu ini", jawabnya. Tanpa pikir panjang aku iyakan, siangnya aku ikut briefing untuk keberangkatan hari Sabtu. Hanya dua hari setelah konfirmasiku. Dan apa saja persiapanku? NOL BESAR!! Malamnya aku ke "toko serba ada dari perancis" di sana kudapatkan carrier murahan dan matras hangat. Tenda doom aku sudah punya, dan sleeping bag aku bisa pinjam ke teman sekamarku. Makanan kubeli keesokan harinya agar tidak basi untuk perjalanan dua hari naik turun gunung. Perlengkapan sisanya sudah ada peninggalan bekas bromo. Minggu pagi, setelah terbangun dari tidur minimalisku yang terganggu insomnia, aku mulai ngebut dengan motor kecilku menuju titik keberangkatan. Setelah packing selesai, menunggu teman yang ngaret, akhirnya kami berangkat. Sarapan bubur di Puncak lalu lanjut ke Cibodas. Starting point kami di Cibodas. Kami berdelapan disertai enam orang porter sekaligus guide menuju puncak Pangrango. Pos-pos awal kami lalui dengan santai, Telaga biru, Pancanglayang, lalu Rawa Denok dan teman-teman sudah mengeluh kelaparan. "Buburnya nggak nampol" kata mereka. Tapi team leader berkata bahwa ransum akan dibuka di Pos "Kandang Batu" setelah air terjun air panas. Jujur saja, lapar membuatku mengantuk.  Spa di Air terjun Air Panas Sesampai di Kandang Batu, tidak banyak bicara kami melahap nasi ayam yang dibawarga di bawa dari warung padang di Puncak. Hebatnya, kami menawar harga di warung padang itu =D. Perjalanan kami lanjutkan sampai ke Kandang Badak kira-kira jam tiga sore. Ada rumah kecil di Kandang Badak. Mungkin itulah yang disebut Kandang Badak, dan kami yang istirahat di dalam rumah itu adalah Badaknya =D Jam empat sore, kabut turun disertai titik-titik air. Kami yang mulai kedinginan membongkar sweater dan jaket untuk menghangatkan tubuh. Kami sepakat naik terus ke puncak jika kabut sudah cerah. Ternyata kabut bersahabat dan kami mulai naik. Mendaki gunung itu aktivitas FISIK Maaf, jangan mengira mendaki gunung itu aktivitas hebring, senang-senang, bertabur bunga-bunga flamboyan berguguran, angin sepoi-sepoi, burung-burung berkicau indah, rusa-rusa genit menggeliat lalu dari jauh muncul Shahrukh Khan sambil nyanyi "Tumpa se ae.. tumpa se ae.. " lalu muncul teman-temannya sekompi berseragam sambil joget-joget ( Cut!! kok jadi ngaco sih? =D) Intinya, kalau anda tidak dalam keadaan fit, jangan coba-coba naik gunung, karena anda juga bisa membahayakan nyawa rekan-rekan satu tim pendakian anda. Kalau anda doang yang mati sih tidak masalah, soalnya dalam peraturan pendakian, "Peserta yang mati dianggap mengundurkan diri dari tim, karena hanya akan mengganggu jalannya pendakian" =D masalahnya kalau anda sakit, trus nggak selera makan dan nggak mau maksain diri untuk makan, udah gitu minta ditungguin lagi, apalagi minta gendong. Bete banget nggak sih?? Jadi, mendaki gunung bukan untuk keren-keren-an, tapi ini olahraga beresiko tinggi dan BERAT!. Pertimbangkan dan rencanakan baik-baik sebelum anda memutuskan untuk mendaki. Kejadian, ada beberapa anggota tim kami yang tumbang, sebagian memutuskan camp di jalan. Dan hanya empat orang yang mencapai puncak jam setengah sebelas malam. Tiga orang sisanya menyusul pagi harinya ketika mereka sudah fit dan satu orang lagi tumbang.  Puncak Gunung Salak dari Mandalawangi Mandalawangi Pukul setengah sebelas aku dan tiga orang temanku mencapai tugu puncak Pangrango. Dari sana terlihat kota Bogor dan Sukabumi. Lalu kami turun 30 meter vertikal menuju sebuah lembah berumpun edelweys. Edewleys sedang layu ketika kami datang. Langit cerah, kupandangi konstelasi bintang, sayang sekali aku tidak mengenali mereka. Kucari waluku dan scorpio, tapi tidak kutemukan. Kelaparan, kulahap nasi rendang dari warung padang tadi, sholat jama' qoshor lalu tidur. Pagi harinya aku berjalan sendirian mengelilingi lembah edelweys. Meresapi angin dingin, memandangi hutan-hutan kelabu yang mulai benderang terkena sinar matahari, lalu memburam diterpa kabut yang laju melintas. Dingin sekali. Mandalawangi membawa aura mistis, indah tapi tak banyak manusia yang mendakinya (kalah ramai dari Surya Kencana yang luas) tapi di situ kurasakan bahwa tempat ini istimewa. Berwibawa. Rumpun-rumpun edelweys yang mekar mulai layu, bergoyang-goang ditiup angin yang dingin. Semua Mungkin Terjadi di Gunung Dalam mobil menuju Jakarta, salah seorang dari kami bercerita, "Aku nggak nyangka lo, ternyata banyak yang meninggal di Pangrango". Flash back, kira-kira jam sepuluh kurang seperempat. Kami bergelantungan di akar pohon mencari jalan ke Puncak. Dari radio handy talky terdengar suara dari salah satu anggota tim yang memutuskan camp di bawah, "Nanti kalau ada pos di puncak, belok kiri". Jalan menuju puncak sangat berat di malam hari, berkelit-kelit diantara akar, dan banyak jalan menuju puncak. Membingungkan. Kami melihat lampu pijar kuning terang di sebelah kanan, kami kira itu adalah pos yang dimaksud. Kami berusaha mencari jalan menuju lampu tersebut. Mas Dodi, salah satu teman kami mengingatkan, ikutin track aja, jangan ikuti lampu. Lalu kami menurut dan lagi-lagi kami kebingungan mencari jalan. Kami kontak teman di bawah untuk kirim dua orang porter untuk memandu perjalanan. Ternyata puncak masih 100 meter vertikal dan jalan pendakian adalah ke kiri bukan ke arah lampu tadi! Belakangan kami menyadari, mana ada kabel PLN atau genset di puncak?! Aku tidak bilang itu hantu, dedemit atau apapun. Menurutku kejadian itu lebih baik dilupakan. Gunung memang bukan tempat manusia pada umumnya. Fakta lain, menurut salah seorang porter kami, di lokasi camp tempat kami di Mandalawangi, pernah ditemukan jenazah seorang perwira TNI, dan di tugu puncak pernah ditemukan jenazah pendaki perempuan tanpa identitas. Padahal aku sempet pipis di salah satu rumpun di deket camp dan hampir foto kayang di tugu puncak (untung ga jadi =D). Alhamdulillah semua baik-baik saja, dan kami selamat sampai rumah walopun kaki pegel dan jalan jadi kayak Robocop. Udah ah, ini bukan blog misteri, kalau pengen mbahas misteri-misteri lebih lanjut, mending ke blognya Pak Leo aja =D Anyway, prepare yourself before you hike!!  Mandalawangi ------ * Pangrango Peak (3019 m dpl) is dedicated for my fiancee, Dian Wulandari.
"Tok.. Tok. Tok.." kukentuk pintu itu tiga kali. Sesosok kepala menoleh, lalu aku bertanya, "Lagi sibuk, Pak?" Dia tersenyum lalu berkata, "Silakan.. silakan.." Lalu aku duduk, sesaat aku kehilangan kata. Kemudian beliau berkata lagi, "Saya tahu kok, kamu ke sini mau ngomongin apa.. Mau ke mana kamu?" Saya tersenyum lalu menjelaskan satu demi satu secara berurutan. Dan waktu Jumat menyelamatkanku dari interogasi lebih lanjut. Dua tahun lalu, dalam kalender hijriah, kira-kira selisih waktunya cuma 7 hari. Aku mengetuk pintu yang sama. Wajah yang sama, Harusnya waktu itu momentnya interview, tetapi Beliau malah memberikan informasi gaji yang akan kuterima, lingkungan kerja yang akan dihadapi, Sebulan kemudian aku resmi menjadi penghuni ruangan di gedung lantai 30 tersebut. Proses demi proses pun dijalani. "Platform kita berada di selat yang keruh, tetapi arusnya deras" kata salah seorang pemateri dalam training kami. Tidak butuh waktu lama, beberapa bulan kemudian aku jatuh ke laut keruh berarus kencang itu =D untung masih selamat. Tidak terasa hampir dua tahun telah terlalui. Pada pagi terakhir di Kurau Camp, Pulau Padang Kepulauan Riau, Aku tiba-tiba ingat sama film kartun di bawah ini :  Iyak betul sodara-sodara, dulu waktu kita masih kecil, kita bela-belain pake kacamata 3D untuk ngeliat film ini, tapi bukan kacamata 3D nya yang kuinget, tapi syair lagu penutupnya: Slamat pagi gunungku, Slamat pagi pohonku, Slamat pagi teman-teman semua.. Aku kan pergi jauh demi cita-citaku aku mohon doa restu darimu... Slamat berpisah semuanya, aku kan pergi untuk mengembara Jangan sedih akan kepergianku.. Kelak pasti kita akan bertemu..!! Hehe, pas banget moment perpisahan dengan hutan Kurau =D Siklus Pemberontakan Rakrian Dharmaputra Winehsuka Tertulis dalam sejarah, pada saat pemerintahan Jayanegara raja kedua Majapahit prajurit-prajurit yang pulang dari ekspedisi perluasan kekuasaan ke dareah Melayu atau disebut Ekspedisi Pamalayu yang dikirim sejak pemerintahan raja terakhir Singasari, Kertanegara, dianugerahi penghargaan gelar "Rakrian Dharmaputra Winehsuka" atau dengan kata lain "Diberi kebahagiaan". Penerima anugerah tersebut mendapat gelar Rakrian, antara lain Rakrian kuti, Rakrian Tanca, Rakrian Wedeng, Rakrian Yuyu, Rakrian Pangsa dan Rakrian Kembar. Siapa sangka hanya beberapa saat dari penyerahan penghargaan, Rakrian Dharmaputra Winehsuka yang dipimpin Rakrian Kuti justru melakukan pemberontakan yang paling besar dalam sejarah Majapahit bahkan mungkin sepanjang sejarah Nuswantara karena pemberontakan tersebut tercatat mampu menduduki Istana dan memaksa Jayanegara mengungsi ke daerah Bedender. Dan Siklus itu berulang.. Tujuh orang engineer dikirim ke tanah melayu untuk mendapatkan untung dari tetes-tetes minyak. Sekian lama mereka berada di tanah Melayu, sampai-sampai mereka pandai membikin pantun. Contohnya: Kain sari kain kebaya Berderet-deret di pasar baru Pagi-pagi makan pepaya Yo Mencret!! Ndhiasmu!! Ketika suasana genting, Rakrian Ponco berhasil memanfaatkan suasana dengan laku mbalelo hengkang ke negeri seberang. Gonjang-ganjing pun terjadi. Untuk meredam gonjang-ganjing, 6 rakrian lainnya dipanggil ke pusat pemerintahan, Jakarta, kemudian diberikan anugerah berupa Disparity Salary Increase. Kemudian mereka ditanya, "Gimana, senang?" dan mereka menjawab "Alhamdulillah" Siapa sangka, ketika pagi harinya mereka yang menekuk muka paling dalam ketika diberi surat keputusan Disparity Salary Increase, justru dalam waktu 3 jam menyerahkan resignation letter sebagai laku mbalelo. Hal ini dilakukan oleh Rakrian Bramasto =D Belum lengkap penderitaan, hanya selisih dua hari dari surat Rakrian Bramasto, Rakrian Galih juga mengajukan resignation letter. Bener-bener tindak makar yang terulang dalam kurun waktu 7 abad =D Parahnya, Makar Mbalelo ini dilakukan ketika sang prabu sedang di Boston selama satu bulan =D  yap, inilah moment ketika dhampar kencono diduduki oleh dua rakrian yang mbalelo =D Hmm.. Sebagai penutup, aku ingin mengucapkan terima kasih pada semua rekan-rekan untuk segalanya.. kauberikan lagi.. kesempatan itu.. (lho kok jadi Afghan? =D) yah, intinya terima kasih banyak.. Dulu.. pernah ada satu lubang keciiiiiiiiiill di dalam hatiku. Ya.. Kondur dulu ada di situ =)  Gutbai selat lalang...
 | Bandung | Aug 31, '08 10:00 PM for everyone |
Bandung memang tidak habis-habisnya menyimpan cerita-cerita. Bandung memang tidak habis-habisnya menari-nari, menggoda untuk diterjemahkan dalam huruf-huruf merangkai kata, kata-kata merangkai kalimat, kalimat-kalimat merangkai paragraf (aku tidak mengatakan bait karena aku bukan penulis puisi, lebih tepatnya tidak bisa). Sialnya aku tidak bisa melawan godaannya, jadi untuk kesekian kalinya aku menulis lagi tentang Bandung. Tapi kuharap tidak bosan dengan tulisan-tulisanku tentang Bandung, karena ini Bandung dari sudut pandangku, lebih tepatnya mungkin hanya aku. Bandung dan Bakery Atmosfer sejuk di Bandung mempengaruhi pertumbuhan vegetasi di wilayah geografis setingi 641 meter di atas permukaan laut itu. Vegetasi yang seperti apa? tentunya vegetasi yang rindang. Di tepi-tepi jalan, dedaunan seakan melakukan "toast" di tengah jalan sekian meter di atas aspal. Efek teduh, rindang, segar memang membuat Bandung menjadi tempat yang layak untuk dijadikan tanah tinggal impian. Belakangan, karena mencari uang di Bandung relatif lebih sedikit produktivitasnya dibandingkan di Jakarta, maka Bandung pun tidak lagi menjadi tanah tinggal impian. Tapi Bandung bukan lantas hilang begitu saja, karena Bandung merupakan pilihan tempat terbaik menghabiskan uang yang di cari di Jakarta di akhir pekan. Kondisi bentang alam, vegetasi dan pergerakan penduduk tersebut menjadikan Bandung tempat yang menarik untuk dijadikan pasar fashion dan kuliner. Coret objek yang pertama karena aku tidak tertarik pada fashion, kecuali hanya untuk menutup tubuhku. Sebenarnya aku juga memperhatikan kuliner seperti aku memperhatikan fashion, tapi stressing-nya bukan pada kuliner, tapi pada toko Bakery. Memang, toko bakery menjadi icon khusus buat Bandung, Kartika Sari dan Amanda menjadi dua raksasa di Bandung, disusul toko-toko bakery yang menjamur. Toko bakery memang merupakan aksen tersendiri, sampai-sampai tokoh kuliner Indonesia yang terkenal dengan gumamannya ketika ada makanan dalam mulutnya, "mmmmmmm... mmmmmmm... mmmmmm..." dan dilanjutkan dengan frase populer. "mak nyusss pemirsa...." mengatakan kalau Bandung disebut Parijs van Java karena banyak toko Bakery di Bandung, seperti halnya di Paris. Saya tahu kita harus mengklarifikasi statement tersebut pada Herman Willem Daendels yang menancapkan tonggak Bandung nol kilometer di jalan Asia Afrika. Kenapa harus Bakery yang dijadikan aksen? Jelas, karena bakery memiliki kedudukan yang istimewa. Golongan darahku A, dan aku memang pediet ketat. Aku hanya mau bilang kalau aku bisa cuek terhadap semua jenis makanan, tetapi seperti Bandung, Bakery yang sebenarnya diam duduk di etalase itu menari-nari, menggoda di dalam benakku . Dan aku tidak pernah bisa mengabaikannya. Itulah sebabnya ketika aku bisa cuek terhadap semua orang (baca:wanita -pen) ada satu oknum yang berperilaku seperti bakery, sehingga aku tidak lagi menyebutnya "oknum" tetapi "bakery". Bandung, Burung Kolibri Merah Dadu, dan Sepanjang Braga Aku sengaja menyebut satu judul kumpulan cerpen karya Kurnia Effendi, "Burung Kolibri Merah Dadu". Wulan Guritno berkomentar di sampul depannya, "Cerpen-cerpen dengan romantisme tinggi, membuat kita yakin untuk selalu memiliki harapan dan impian akan cinta". Kira-kira delapan belas bulan yang lalu, aku membelinya di Gramedia Semanggi untuk sekali baca, lalu untuk dilupakan karena diantara nama-nama tokoh dalam novel itu, ada dua nama yang waktu itu menyita perhatian saya. Yang pertama adalah namaku sendiri. Pada waktu yang hampir sama dengan waktu aku membeli buku, harus kuakui, ada satu lubang, keciiiiiiiil, di dalam hatiku. Dan waktu itu lubang itu diisi oleh nama yang kedua. Yap, seperti dugaan anda, sekarang lubangnya jauh lebih besar, dan si nama kedua sudah tak berbekas, digantikan carving jelas, Bravo, Alpha, Kilo, Echo, Romeo, Yankee, dalam aphabet kepolisian. Tadi pagi, kubuka lagi kumpulan cerpen itu untuk membaca cerpen "Sepanjang Braga". Dalam cerpen itu, KEF (panggilan Kurnia Effendi) bercerita tentang braga di sore hari, gerimis, berjalan kaki dari Jalan Wastu Kencana, menyeberangi rel kereta api, dan bioskop President lalu akan menemukan nafas Bandung yang abadi. Hotel Braga, Gedung konferensi Asia-Afrika, Braga fast food, juga Braga Stone. Ya, saya tahu pasti anda bertanya lagi, ada apa dengan sepanjang Braga? Dan aku sudah punya jawabnya. Dua hari lalu, aku berjalan di sepanjang Braga di sore hari. Tapi sedikit berbeda dengan versi KEF. Aku tidak berjalan dari Wastu Kencana ke Asia Afrika, tapi sebaliknya, sehingga nafas abadi Bandung telah kurasakan sejak awal. Mirip, tapi kurasa lebih sempurna. Jalan Braga, teras Gedung Konferensi Asia Afrika, hujan (bukan gerimis), alunan piano dari dalam gedung, atmosfer kota tua, sebatang silverqueen dark chocolate, dan ada Bakery di sampingku menjadi komposisi sore hari yang sempurna. Anyway, aku suka kalimat penutup KEF dalam "Sepanjang Braga". Begini bunyinya, "Aku cinta padamu, cinta padamu, lebih dari sepanjang Braga.." .
Sore itu, 31 Juli 2008. Roda Boeing 737 penerbangan GA-175 dengan lembut menyentuh runway Soekarno Hatta. Setelah bernafas lega sejenak, aku segera berlari mencari mesin ATM, aku perlu segera transfer pembayaran tiket Surabaya-Jakarta. Tidak ada!! Dalam kendaraan aku menyimpan cemas. Di depan Hotel Kartika Chandra aku segera berlari menuju mesin ATM, kertas struk habis! Masa bodo, aku butuh transfer. Setelah transfer selesai, kuambil ponsel dari saku celana, lalu kuketik pesan singkat, "Biaya tiket sudah ditransfer, please check, thx", ku tekan send dan sesaat kemudian di layar muncul "message sent". Surabaya-Jakarta? Hallo? Belum ada 1 meter kubik udara Jakarta yang kuhirup, tapi Jakarta memang hanya tempat untuk orang-orang stress. Jadi, aku akan menghabiskan akhir pekan ini di Pulau Sempu, seberang pantai Sendang Biru, sebelah selatan kota Malang, Jawa Timur. Aku pun lagi-lagi berlari menuju flat di lantai empat. Repack sejenak, mandi dan sholat Maghrib dan lagi-lagi berlari mencari taksi menuju halte tempat bertemu. Namun, rupanya berlari tidak bisa mengubah apa-apa dan tetap membuat Dia harus menunggu. Menyusuri lapangan Monas, kami pun sampai Gambir. Masih ada waktu untuk duduk di peron, memandangi lampu-lampu gereja Immanuel di seberang yang memberi kesan pijar hangat. Kereta datang, kami berangkat[1]. Surabaya di pagi hari, terik matahari menyapa hangat. Satu fakta adalah ternyata naik becak di hiruk pikuk kota Surabaya untuk mencari sebungkus terasi di Pasar Genteng merupakan hal yang menarik untuk dilakukan. Tapi jangan sekali-kali jalan di trotoar Surabaya, anda bisa terbunuh masuk ke lobang trotoar. Stasiun Gubeng, sore hari. Terik matahari memaksa kami duduk di bayang-bayang tiang peron. Seniman lokal menyanyikan lagu-lagu by request. Lalu Dia menulis di selembar bungkus permen karet Spearmint kesukaan kami, berjalan menuju panggung lalu menyerahkan request lagu tersebut ke penjaga panggung. Sayang sekali, sang seniman tidak mengenal lagu "She" yang dibawakan oleh Elvis Costello, mereka malah menyebut "Castillo" bukan "Costello, padahal sore itu bangku peron tak kalah indahnya dengan bangku taman tempat Hugh Grant dan Julia Roberts menghabiskan sore musim gugur di "Notting Hills"[2]. Gerbong remang-remang tanpa lampu senja itu melintasi tanggul paling terkenal di Indonesia, tanggul Lumpur Lapindo. Gerbong memang sangat suram, tapi kami berlima justru tenggelam dalam nostalgia konyol dan lelucon-lelucon segar sampai-sampai perhatian seluruh gerbong terpusat pada kami berlima. Courtesy to Cahya yang membuat kami berlima menjadi pusat perhatian =) Kereta pun merayap menanjak mengarungi udara yang semakin dingin. Udara kota Malang malam itu begitu sejuk. Semalaman kami menginap di kontrakan seorang teman lama. Pagi hari kami sempat mendengar petik dawai biru Cahya, sang seniman, lalu kami berangkat menggunakan angkutan umum. Fakta menarik lainnya, sekarang rombongan kami berduabelas, dan kami selalu memenuhi angkot. Kalaupun angkot terbalik, mungkin posisi kami tidak akan bergoyang satu milimeter pun =D Telaga bening menyapa kami setelah satu setengah jam tracking di hutan selepas berlabuh dari sendang biru. Bening sekali, konon di sana hidup buaya. Lalu kami mencapai pantai putih. Panas terik. Kami mendirikan tenda. Tendaku terhempas dua kali oleh angin pantai, tapi akhirnya berhasil berdiri semalaman. Air telaga biru yang masuk melalui dinding karang yang bolong semakin menggoda kami untuk menyatu dengannya. Kami pun berfoto bawah air, berenang, floating, lalu mendaki karang untuk menyaksikan cakrawala. Mungkin ada Nyai Roro Kidul di tengah sana, aku tidak tahu. Ketika air telaga surut, ternyata di dasarnya adalah "Bikini Bottom". Ya, kami bisa melihat spongebob, gery, Jelly Fish dan Mr. Crab[3]. Mengapa Bilangan Fu dan Rasi Bintang? Dua minggu kuhabiskan untuk membaca novel "Bilangan Fu" karya Ayu Utami di sela-sela kesibukanku. Memang, tidak semua hal aku sependapat tetapi Bilangan Fu membuka hatiku untuk menghormati "Kearifan Lokal". Senja itu berawan, sempat aku khawatir akan hujan, tetapi awan segera berarak menyisih."Lampu-lampu pijar melenakan manusia sehingga mereka melupakan lampu-lampu Tuhan di atas sana" kata Ayu dalam novelnya. Tidak persis, tetapi seperti itu intinya, aku bukan penghafal yang baik. Belakangan aku menambahkan, "Dan lampu-lampu Tuhan jauh lebih memiliki makna". Lalu Dia mengarahkan senter kuning kecilnya ke angkasa. "Dua bintang sejajar ini sapi, lalu ini kayu, ini manusianya dan tiga bintang di belakangnya adalah bajak. Mereka disebut Waluku". Aku termangu lalu Dia mengarahkan senter kuning kecilnya ke arah lain. "Kamu lihat tiga bintang sejajar ini? dia punya ekor yang sangat panjang, berakhir di sepasang bintang kembar. Namanya Scorpio" Aku masih termangu, kagum. Kagum pada gugusan bintang itu, tapi jujur aku jauh lebih kagum pada Dia. Sebelumnya aku mohon maaf kalau kata-kataku sarkastis. Tapi jika anda merasa anda adalah orang kota, dan ingin meng-kota-kan pulau cagar alam seperti Sempu ini, lebih baik anda enyah ke mall tempat anda nongkrong dan dugem. Pulau ini hanya diperuntukkan pada mereka yang ingin menyatu dengan alam. Pulau ini tidak perlu gebyar-gebyar kembang api. Malam hari, kami mendaki karang, merebahkan diri menyaksikan scorpio, waluku, milky way yang samar-samar tampak. Di antara bintang-bintang jatuh kami memanjat doa. Di sisi hati yang lain aku ingin menjadi bintang, yang cahayanya tetap tampak walaupun mungkin dia sudah hancur sekian tahun cahaya yang lalu. Debur ombak menari menghempas karang beberapa kilometer dari garis pantai. Tiba-tiba Cahya berseru, "Sudah waktunya turun. Sekarang juga!!". Jujur saja aku tak tahu apa maksudnya, dan aku juga menyimpan tanda tanya. Tetapi kami menurut dan turun.Biarlah itu sebagai penghargaan kami pada kearifan lokal yang sangat keterlaluan jika harus dilawan dengan kecongkakan dan ego. Kami pun rebah di tanah menghabiskan malam [1]. Pagi hari kami mendaki karang untuk menyaksikan fajar.Lalu sarapan mie instant cap campur aduk dan kami floating lagi di telaga jernih. Akhirnya kami harus berkemas, lalu pulang. Tracking di hutan yang sama, melalui jalan yang sama ketika kami berangkat, sampai kami berpisah di terminal Arjosari. Aku dan Dia berangkat lebih dulu ke Surabaya, teman-teman yang lain berpencar ke tujuan masing-masing. Yap, Sempurna. Perjalanan yang sempurna. [1][1][1][1][1][1][1][1][1][1]...  Sempu dan Dia ---- [1] Selalu ada cerita yang tak perlu diceritakan =p [2] Film Holywood, diperankan aktor dan aktris ganteng yang saya sebut. Sound-track-nya "She" by Elvis Costello [3] Tokoh kartun Nickelodeon itu lo, masa ga kenal sih?
04.30 a.m. 12 Juli 2008 Glenn Fredly menyanyi di seberang, lalu terputus digantikan suara yang masih malas, "Halo". Aku yang juga masih ngantuk menjawab, "Halo, udah bangun khan? ga ada tsunami, tapi kita musti check in di airport jam 6.30 tepat jadi buruan mandi dan siap-siap" Dari seberang terdengar sahutan, " Oke aku udah di luar kamar sekarang" lalu telpon ditutup. Selalu ada cerita yang tak perlu diucapkan, akhirnya kami bisa sampai di airport tepat waktu, lalu menunggu penerbangan ke Padang.Sesaat kemudian mesin jet menderu, kami melesat menembus Cumulus lalu Cirrus dengan sedikit goncangan. 80 menit kemudian pantai pasir putih dan pulau-pulau kecil di barat pantai Sumatra tampak dari ketinggian. "Flight Attendant, Landing Position", ucap pilot, lalu pesawat pun mendarat. Appreciate, karena hutan masih sangat terpelihara di sana. Sawah berbatasan langsung dengan hutan. Lalu kami mencari kendaraan untuk menuju Bukittinggi. Kendaraan sampai pada suatu terminal (yang lebih mirip antrian imunisasi di posyandu) but overall we enjoy it. =) Setelah menunggu kendaraan selanjutnya, kami melaju melalui Pasaman, Padang Panjang, lalu masuk ke kota Bukittinggi. Selanjutnya sesi latihan otot kaki, berjalan melalui kota, naik tangga pasar, belok kiri dan sampailah kami di Jam Gadang. Lurus, menuju The Hills, tempat kami menginap. Sore sampai malam kami menjelajahi seluruh kota Bukittinggi. Jam Gadang, Jalan Cina Tembok, Benteng Vort de Kock, melewati tepian Istana Bung Hatta dan berakhir dengan segelas Bandrek di tepian jalanan Bukittinggi, lalu kembali ke kamar masing-masing setelah jama'ah jama' qoshor maghrib-isya. Pagi hari, sekali lagi selalu ada cerita yang tak perlu diceritakan. Setelah sarapan pagi, here we go, Ngarai Sianok. Sangat disayangkan pemandangan seindah itu harus rusak oleh mental buang sampah sembarangan. Yup, Sampah di Bukittinggi dan Ngarai Sianok bisa dikategorikan "sangat mengganggu" seharusnya penduduk setempat sadar, bahwa tempat-tempat tersebut adalah objek foto yang sangat menarik. Tapi saya maklum betul, karena hanya fotografer yang punya pemikiran seperti itu =D. Next stop, Jaringan Goa Jepang di perut bumi bukit tinggi beserta penjelasan sejarahnya oleh uda guide yang baek. (Hyper Sorry buat yang sudah ditinggalin terengah-engah di tangga tanjakan mulut gua =) ). Anehnya, Penduduk setempat menyebutnya "Lubang Jepang". Saya maklum kok, kalau setelah membaca frasa tersebut, image Maria Ozawa atau Sora Aoi langsung muncul di benak pembaca. =p Cukup sudah penjelajahan, kami pun pulang menuju Padang, lalu terbang ke Jakarta. "I am very happy, and you are the part of my happiness, thank you for being my happiness.", kataku.. Dan perjalanan Cengkareng-Benhill mengakhiri perjalanan indah ini. Perfect. Yang paling penting, we have made our footprint in Bukittinggi 
 | Cumulus | Jul 29, '08 11:01 AM for everyone |
 Di suatu tepian hutan. Terik, tapi rerumputan dan pepakuan masih dalam sejuk kehijauan. Di sebuah teras dengan peti-peti kemas yang "dipaksakan" untuk menjadi kamar-kamar hunian. Selonjoran. "Sumur baru kita berhasil, sekian)* ratus barel per-harinya", kata salah seorang. "Ada yang tau nggak, gimana sih pembagian minyak kita dengan pemerintah)** ?" Karena kebetulan saya tahu, saya pun ikut nimbrung, "Kita ajuin budget dulu ke pemerintah, ketika disetujui, kita pake modal kita dulu sampai selesai. Setelah berhasil dapet minyak, pemerintah mengganti semua biaya. Tarifnya, 85% minyak kita diambil pemerintah". Seiring berkurangnya tenaga karena menggeluti mesin yang tak kunjung beres, di luar dugaan ternyata pemikiran justru lebih kritis. "Ironis memang, bangsa kaya yang berpenduduk miskin" sambung salah seorang lainnya. Tergelitik, kujawab lagi, "Bukan miskin, tapi mentalnya yang miskin. Mata duitan. Jadinya, merugikan dan memiskinkan rakyat". Mengamini, ada yang menyahut, "Yah, kita dalam tekanan selama penjajahan. Merdeka menjadi suatu kesempatan emas untuk lepas dari semua tekanan itu secara fisik, sayangnya, mental kita masih terjajah, bahkan sampai 63 tahun". Hening sejenak, dan masakan makan siang pun sudah siap. Topik dibubarkan, Sekumpulan orang yang terdiri dari beberapa bangsa itupun (tercatat bangsa Kanada, Singapura, Cina Hokian, Sunda, Minang, Melayu dan Jawa =p) berbaris mengantri makanan.  Yup, we are field workers. Yang nggak segan-segan untuk teriak, yang bicara terang-terangan, yang bekerja dengan resiko dan tekanan lebih daripada white collars yang duduk-duduk saja di gedung bertingkat di Jakarta. Tapi fakta membuktikan bahwa bahan pembicaraan kami jauh lebih berkualitas. Kami memikirkan negara dalam skala makro, memikirkan keberlangsungan lingkungan, memikirkan perkembangan komunitas sekitar kami yang tinggal di hutan itu sendiri, menjalin komunikasi dan memberi pengajaran positif, bahkan lapangan pekerjaan. Sementara ketika topik-topik tersebut dikemukakan di kalangan white collars, bukan suatu yang mengherankan kalau cemoohan yang kita dapat. Sangat maklum, karena mereka sibuk dengan detox, fitness, MLM, air conditioner mall yang bikin mata pedih, cafe-cafe dan kuliner, life style yang membatasi kerangka pandang dan kerangka pikir menjadi kerdil. Kami memang sapi-sapi perah potensial untuk membangun citra company yang justru dianggap asing oleh white collars yang nota bene tugasnya justru membantu kami (see? babu kami lah kasarnya). White collars yang merasa bekerja di perusahaan besar, tanpa pernah berpikir berkat siapa perusahaan ini bisa berjalan. Yang kadang justru menyuruh-nyuruh kami (hello?? who do you think you are??) Walaupun orang memandang kami sebagai orang yang kurang beradab, kami bangga dengan keterus-terangan kami. Walaupun koneksi makin diperlambat, dan dibatasi tanpa pemikiran akan kebutuhan komunikasi di daerah remote, kami tidak pernah protes, karena hanya segitulah pemikiran kerdil white collars (pengen banget kusebut dengan sebutan "busuk") yang terkerdilkan oleh kerangka pandang dan kerangka berpikir mereka sendiri. Kami tetap bangga, karena kami tidak hanya punya kontribusi tetapi kami juga punya bargain. Tunggu saja waktunya sampai bom waktu ini meledak dan kalian akan tahu siapa kami. Kami ini cumulus yang bergumpal menjulang, tak jarang bersisi tajam dan bergejolak. Tetapi dari berbagai sudut pandang, warna kami putih. Kami bukan cirrus yang halus, lembut namun sisi bawahnya tampak putih, sedang tampak kelabu di sisi atasnya. -- gambar awan diambil dari google dengan keyword "cumulus cloud"
Yup, everybody know, saya tinggal di Bandung selama masa kuliah saya. Berbagai macam cerita pun terjadi di sana, ada suka, ada duka, awalnya biasa saja, kita bercanda bersama (kok jadi lagu jadul? =p) Intinya, tangal 10 Juli kemaren saya menorehkan sejarah bertualang yang lebih hebat di kota Bandung. Bagaimana ceritanya? Stay tune.. =) Chronologies: Tujuan akhir saya sebenarnya adalah Jakarta, saya berangkat dari kediri setelah coming home selama lima hari. Kenapa saya ke Bandung dulu? jelas sudah.. tiket ke Jakarta sudah dimakan oleh calo-calo busuk itu (Terkutuklah calo-calo busuk yang menari di penderitaan orang lain!!.. jegerrrr... jegerr... -pura2nya suara petir =p ) So, satu-satunya jalan ya, transit di Bandung, terus ngelanjut pake travel. Setelah semalem di bus yang jauh lebih nggak nyaman dibanding kereta, akhirnya nyampe juga di kota Bandung jam setengah 6 pagi. Darah A yang mengalir di urat-urat nadiku seperti biasa mengakibatkan setiap langkahku well scheduled dan well calculated. Sampai di Bandung 5.30, sampai di pool travel 06.00 berangkat ke Jakarta 06.45, sampai di Jakarta 08.45, istirahat sejam, terus njemput temen yang minta di-guide cari kos jam 10 tepat. Sesuai schedule, setelah sampai di Bandung, saya langsung cari angkot ke pool travel. Pas nyambung angkot di simpang Dago, by refleks tangan kanan saya nyentuh pantat (ini bukan ritual sesat pagan, tapi ini metode nge-cek dompet yang paling absah untuk digunakan) dan.. shit!! my hand directly touch my ass! alias, dompet aing teu aya!! setelah mastiin tidak tertinggal di bangku angkot, saya termenung sejenak.. Well, I think God loves me, karena di saku masih ada uang sekitar 70 ribu (untung banget ada lembaran 50 ribuan yang tertinggal di saku). Pelajaran penting yang baru saya sadari kemudian adalah, waktu itu saya tidak hanya melulu berpikir bagaimana dompet saya ketemu, atau malah mencari-cari kambing hitam untuk dimarahi, tapi saya lebih banyak memikirkan antisipasi dan solusi jika worst case terjadi atau dompet saya tidak ketemu. Blokir ATM, minta kartu ATM baru ke bank, tapi what the hell? id card saya semuanya ada di dompet, bahkan Garuda Frequent Flyer Card yang sudah silver juga ada di sana. Tapi paling gak masih ada id card Kantor. Then, pinjam sejumlah uang ke temen yang dapat dipercaya sampai ATM saya jadi. Padahal, tanggal 12-13 nya ada agenda ke tempat yang jauhnya ribuan mil =), KTP? SIM? urusan belakangan =D Tapi, berpikir antisipasi dan solusi bukan berarti saya nggak cari dompet. Dengan sisa uang yang ada, saya pun kembali ke pool bus walaupun saya tau jelas kalau bus sudah tidak ada di sana. Paling nggak, saya bisa cari tau ke mana Bus tersebut nge-tem. Sesampai di pool bus, Kosong! petugasnya belom datang! Kalau orang lain langsung lemes lututnya, saya justru merasa adrenalin saya terpompa dengan discharge maksimal. begitu ada bus nyampe lagi, langsung saya samperin sopirnya. Sambil nanya, ke mana Bus akan nge-tem. Pak Sopir menjawab. "Paldam". It is hard to say, tapi saya bener-bener nggak tau di mana Paldam berada. Pak Sopir menyarankan untuk naik becak, saya pun dengan pede naik becak dengan uang terbatas. Apa mau dikata, becak pun sempet nyasar! dan kondisi saya saat itu, selain bawa ransel gede juga menenteng lidah buaya dalam pot (ini memang sengaja bawa dari kampung untuk meningkatkan level kanuragan saya, dan biar terhindar dari gangguan bethoro Kolo - ngasal dan berlebihan =p) Singkat kata, nyampailah saya di Paldam. Ternyata Paldam itu markas angkatan darat! Setelah nanya-nanya ga tau malu ke bapak-bapak tentara yang lagi nyiapin upacara apel pagi, saya pun menemukan pool Bus. Ngobrol punya ngobrol dengan sopir yang ada di situ, ketahuanlah siapa kru bus yang tadi saya tumpangi. Ada beberapa nomor telpon yang bisa dihubungi. Satpam terminal Leuwi Gajah, setelah ditelpon ternyata beliau belum nyampe terminal, tapi saya salut soalnya begitu sampai terminal beliau langsung sms saya ngasih info kalau bus tersebut tidak ada di terminal. Nomer telpon kedua adalah bagian operasional. Dari beliau saya dapat nomer Pak Dartun, nama sopir bus yang saya tumpangi. Begitu saya mencet "call" di hp saya, datanglah bus tersebut. Bunga-bunga bermekaran di lembah matahari pagi, Sinar harapan pun memancar (sok puitis =p) Langsung saya samperin itu bus. Saya bilang, "Barang saya ketinggalan di dalem, Pak". Kenek-nya dalam hati berkata, "Buset, barangnya bisa dicopot!" (becanda kalee =p) Lalu saya samperin tempat duduk saya, di sana udah ada kru yang tidur! Setelah ngebangunin kru bus itu, dan belau menggeliat, tampaklah sesosok dompet Mont Blanc tembakan beli di ambasador 20 rebuan =p langsung saya ambil, cek kartu2nya (kalau uang sih bisa dicari lagi, tapi alhamdulillah ternyata utuh). Setelah say thanks, saya pun ke Jakarta, walaupun telat sejam dari rencana semula. Pesan Moral: 1. Bersikaplah tenang, cari solusi masalah, jangan terlalu mengungkit-ungkit penyebab masalah, karena itu sama halnya dengan nyetir mobil tapi liat spion mulu, nggak liat kaca depan. 2. Banyak-banyaklah beramal, jangan pelit-pelit. Keberhasilan saya menemukan dompet itu mungkin sekali karena doa ibu-ibu penjaga toilet yang saya tolak kembalian uang toilet-nya, doa Sopir-sopir taksi yang sengaja saya kasih lebih dari yang tertulis di argo, dlsb, Sehingga Tuhan tau kalau saya butuh dompet itu untuk menyenangkan dan berbagi dengan sesama (aamiiin.., buset, bijak banget ya.. tumben-tumbenan =p) 3. Tinggalkan satu atau dua lembaran 50 ribuan di dalam saku, untuk mengantisipasi kejadian serupa menimpa diri anda 4. Hehe, jangan simpan dompet di saku belakang celana kalau anda bepergian jarak jauh. Disimpen di depan aja, ga papa lah ngganjel-ngganjel dikit =p, atau anda bisa meniru metoda cerdas ibu-ibu penjual di pasar. Pakailah Be Ha, lalu selipkan dompet anda di sana, dijamin Aman!! (ngasal lagi kalo ini =p) Semoga bermanfaat!! Hidup Travelling!!
A perfect day Saya ingin bilang terima kasih sebesar-besarnya.. 1. Pada oknum yang rela malem-malem saya bangunin untuk count-down bareng. 2. Pada teman-teman dan saudara yang merelakan pulsanya untuk nelponin saya sekedar untuk mengucapkan selamat 3. Pada teman-teman, saudara, mama, papa yang sudah merangkai kata-kata yang begitu indah dalam sms-sms ucapan selamat. 4. Pada teman-teman yang sudah merangkai kata-kata yang begitu indah, dan kartu-kartu ucapan yang lucu-lucu di comment Friendster saya 5. Pada teman-teman yang sudah ngirim email ucapan selamat. 6. Pada oknum lagi, atas bingkisan manis dan puisi indahnya.. =) so sweet.. 7. Pada "keluarga baru" di Jakarta, terima kasih atas makan malam yang hangat, lelucon-lelucon segar, serta suasana kekeluargaan yang akrab.. makasih juga atas bingkisan manisnya.. Yes, today is my birthday.. bukan harinya yang istimewa, tapi perhatian kalian yang membuat saya bahagia.. jujur saja, saya merasa tidak pantas diperhatikan sedemikian rupa =) Overall, terima kasih atas doa-doanya.. saya aminin semua.. semoga diijabahi.. And.. in the last minutes of my birthday, Dengan mata terpejam, mulutku melantunkan doa-doaku sendiri.. kemudian kutarik nafas sambil berucap "aamiin".. Alhamdulillah.. betapa beruntungnya saya..=)
 Hari Minggu sore, di hutan biasa. Sedari pagi matahari malas untuk tampil. Mungkin saja matahari juga berpikir kalau sometimes, nggak ngapa-ngapain itu juga enak (quoted1), sembunyi aja di balik awan yang empuk. Dari tirai jendela kantor yang sedikit terbuka bisa kulihat hutan dengan pohon-pohon besarnya, dengan pucuk-pucuk dedaunan pakunya. Bergradasi sejenak berubah menjadi padang ilalang, melengkung putih ujungnya, bergerombol. Lalu perdu stepa, hamparan tanah gambut hitam, bakau-bakau yang belum sempurna tumbuh dan berakhir pada lautan. Di ujung penglihatan tampak api flare dari platform lepas pantai. What a beautiful scenary, sampai sesaat kemudian, kaca jendela itu mulai memudar. Tik.. tik.. tik.. gerimis mulai datang. What a beautiful drizzle, I love drizzle. Partikel tetesan-tetesan air melakukan fusi di kaca jendela, semakin besar.. besar.. kemudian tergelincir oleh pesona gravitasi.. jatuh.. pecah.. berkeping, kemudian meresap.. di pangkuan sang ibu, mother earth. Water.. sejak zaman SR (biar kayanya jaduuul banget) kita sama-sama diajari, 70% of human body consists of water (or fluids? cmiiw). Tubuh memerlukan 1.6 liter air atau setara 8 gelas air. Bukan hanya dari ilmu hayat, dari ilmu sejarah dan antropologi pun disebutkan, fosil Pithecantropus Erectus dan Meganthropus Palaeojavanicus ditemukan di lembah sungai Bengawan Solo, dan Homo Mojokertensis ditemukan di lembah sungai Brantas. Artinya, air memang kebutuhan vital manusia. Paradoks Kran Air Saya yakin bukan kran, sekali lagi bukan kran air yang salah walaupun dia punya andil. Bingung? Ada apa dengan kran? Pada zaman pra-kran, katakan saja pada jaman embah-embah manusia purba yang saya sebutkan di atas, tidak adanya kran air membuat manusia lebih menghargai air. Mengapa? jelas saja, karena perlu usaha untuk mendapatkan air bersih. Menimba air atau membawa gentong untuk mengambil air dari sungai. Ketergantungan pun berakibat pada pemeliharaan terhadap sumber ketergantungan. Sungai pun dipelihara dengan baik. Jadi bisa dilihat, dengan ditemukannya trio maut: pipa, pompa dan kran. Paradigma manusia pun bergeser. Air menjadi barang yang gampang didapat, cukup dengan memutar kran counter-clockwise untuk membuka aliran, dan memutar clockwise untuk menutup aliran. Dalam hal ini bisa kita ambil kesimpulan bahwa modernisasi tanpa pemahaman akan berakibat fatal! Air mudah didapat! hal itulah yang kemudian mengakar di sebagian besar manusia. Sumber air, siklus air, sungai pun dilupakan karena sumber air adalah kran air. Masa bodo dengan sungai, masa bodo dengan sumber air, masa bodo dengan hutan lindung. Peralihan fungsi pun terjadi. Sungai bukan lagi menjadi sumber air, tetapi menjadi tempat sampah praktis, lempar dan hanyut. Hutan lindung tidak lagi dipikirkan untuk menjaga sungai tetap mengalir, tapi jadi komoditi pulp yang ekonomis. Sekali lagi bukan sepenuhnya salah kran, tetapi kran berperan. Rheine River Komparasi Global "Orang Vienna sangat membanggakan air-nya yang layak minum walaupun itu berasal dari sungai" Kata Bama, sepulang travelling dari Eropa. "Wow!!", jawab saya. Setelah saya baca buku "Naked Traveller" (yang sekarang masih dibawa si oknum) dan "Keliling Eropa 6 Bulan Hanya $ 1000" (yang juga mau dipinjem sama si oknum) ternyata bukan hanya Vienna yang airnya layak minum, tetapi di sebagian besar negara Eropa! "Tingkat peradaban manusia dilihat dari bagaimana dia memelihara air-nya" kata suhu pembawa acara Feng Shui di televisi, beberapa tahun yang lalu (saya lupa nama suhu engkoh tersebut). Seine River Bila kita klasifikasikan komunitas manusia menjadi dua kelompok besar, Beradab dan Tidak Beradab (baca=biadab,-pen) berdasarkan statement sang engkoh suhu, tentu masyarakat Eropa yang saya sebutkan di alinea sebelumnya adalah kelompok Beradab. Ehm, unfortunately sungai Ciliwung, Cikapundung dan sungai-sungai lainnya yang tersebar sporadis di seluruh tanah air cukup untuk memasukkan kita ke kelompok yang kedua. Thames River Tenang, sodara-sodara.. masih ada jalan keluar: 1. Troubleshoot kebobrokan sungai dari hulu ke hilir, bikin sungai sebagai kawasan sakral! ehm, dengan kekuatan tangan besi tentunya.. 2. Pahamkan masyarakat akan ekologi, siklus air, dan kebutuhan kita akan air yang sedemikian primernya. 3. Boikot Kran!! (dan aktifkan home industry ember, gentong dan timba!! -fatalist mode: on) --- Tulisan ini dibuat untuk memenuhi kebutuhan pribadi penulis, berpikir. - (quoted): di quote dari sms si oknum pada hari minggu 29 Juni 2008 - Si oknum: Oknum yang biasanya itu loh.. - Gambar di-search di google dengan keywords: "thames river", "water drop", "seine river", dan "rhine river"
Sepasang kaki merupakan anugerah yang luar biasa dari sang Pencipta. Dari buku yang saya baca waktu kecil tentang health habit (lupa pengarangnya siapa) disebutkan bahwa sepasang kaki merupakan mesin yang didesain untuk kerja kontinyu yang paling canggih di dunia. Jadi jangan sia-siakan kemampuan kaki anda untuk BERJALAN!! Ironis memang ketika manusia di sekitar kita justru lebih senang bergelendotan di atas jok mobil atau jok motor mereka untuk menempuh jarak yang sebenarnya tidak terlalu jauh, padahal efeknya tanpa terasa adalah pembakaran karbon, penghirupan karbon, pemborosan energi, polusi, dan tentunya penimbunan lemak (ingat, harga diri seorang manusia bukan dilihat dari berapa harga jual dia ketika dia dijual kiloan =p ) Pesan moral pertama : Budayakan BERJALAN KAKI Minggu ini merupakan minggu jalan kaki buat saya, akan saya rinci sebagai berikut: 1. Minggu, 8 Juni 2008 Saya bersama seorang oknum (oknum yang biasanya itu lo) mengawali hari minggu dengan jalan santai yang diselenggarakan oleh departemen yang harusnya menterinya paling terkenal, tapi bukan Purnomo Yusgiantoro, walopun pak Pur adalah menteri yang paling terkenal. =D Route-nya dari depan kantor menteri YBS* di bilangan medan merdeka barat, ke arah selatan menuju bundaran HI dan kembali lagi ke kantor menteri YBS sekitar 5 km bolak balik. Apabila anda berjalan di jalan raya, sementara hari itu bukanlah "car free day" maka demi keselamatan anda, carilah kelompok yang mayoritas anggotanya adalah ibu-ibu! Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa surga adalah di telapak kaki ibu, tapi fakta membuktikan bahwa ibu-ibu adalah golongan yang paling anarkis! misalnya mereka menyeberang tidak mengikuti aturan lampu merah, tetapi bergerombol sesama ibu-ibu sampai berjumlah belasan, lalu menerobos.. polisi pun hanya bisa geleng-geleng.. contoh lain, mereka memotong route dengan lewat jembatan penyeberangan plus, gerombolan itu berteriak-teriak pada kawan-kawan mereka seakan-akan dia adalah yang paling cerdas dengan memotong rute.. Setelah istirahat sejenak, route traveling hari itu dilanjutkan ke distrik utara jakarta. Sesampai di halte bus ancol, kami lagi-lagi berjalan menuju titik pantai terjauh untuk hunting dan survey penyeberangan ke kepulauan seribu. Kira-kira sekitar 3 km pulang pergi. belum puas, kami pun berjalan ke pasar seni yang adem dan eksotis, pulang pergi kira-kira 3 km juga. total hari itu kami berjalan 11 km!  pemandangan di pantai utara jakarta 2. Selasa, 10 Juni 2008 Kali ini di daerah Bandung utara dengan adik saya yang kuliah di ITB. Naik angkot sampai terminal Dago, perjalanan dilanjutkan ke Taman Hutan Raya Juanda, kira-kira 2 km dari terminal, ditempuh jalan kaki dan jalannya menanjak! sampai di THR, kami bernafas sejenak dan segera melanjutkan perjalanan karena perjalanan masih jauh. Overall perjalanannya cukup menyenangkan pemandangannya menyejukkan mata, masih natural sekali, bisa anda lihat di SINI  di depan plang gua belanda Dari plang terbaca bahwa jarak antara Dago-Maribaya itu 6 km dan kami yang masih merasa sangat muda ini juga kemlinthi dengan jalan berlari di setiap tanjakan. Hasilnya, Betul sodara-sodara!! kami terbungkuk-bungkuk ngos-ngosan, hehehe tapi tidak pernah kapok dan masih selalu mengulanginya. Cara tersebut tidak dianjurkan bagi anda yang penderita asma dan serangan jantung apa lagi impotensi (lho?) Overall hari itu cukup menyenangkan ditutup dengan makan sate kelinci dan susu soda, total kami berjalan kira-kira 9 km! 3. Kamis legi malem Jumat paing tanggal 12 Juni 2008 Konon anak yang lahir pada hari ini mempunyai neptu 13, wuku sinto, pangarasan lakuning lintang, pancasuda satria wibawa, dina tikus, Lintang Kamal (Asma), dan pranotomongso sodho. (lha kok jadi primbon? ekekekekek)  mesjid agung Pekanbaru Thousand miles from previous places, saya ada di Pekanbaru. Hari sebelumya kami berjalan-jalan dengan mobil salah seorang teman pribumi keliling kota, mampir ke mesjid agung dan ke pasar bawah untuk membeli kain songket melayu berwarna merah dan biru. Agak kecewa juga sih, ternyata sesuai dengan namanya, Pekanbaru adalah kota yang bener-bener baru, jadinya kebutuhan wisata traveling dan cultural study jadi mendapatkan hasil yang minimal. Yang lebih mengecewakan lagi, hotel bintang jatuh tempat kami menginap tidak menyediakan makan malam, jadinya kami musti ngider dulu cari makan malem. Overall lumayan sih hotelnya, ada kulam renang ama bathtube aer panasnya. Setelah berenang di kulam renangnya mata kiri saya langsung kabur! minimal bisa dinikmati lah tempat tidurnya yang luas dan bathtube aer panas nya (saya ga perlu upload photo pas di bathtube khan? hehehe) Pada Kemis malemnya kami pun ngider cari makan, teman seberang kamar ngusulin ke Pekanbaru Mal. di peta pun terlihat jaraknya tidak terlalu jauh, tinggal lurus ajah.. Kami pun berjalan.. makin lama makin tidak ada tanda-tanda kehidupan.. dalam hati saya mulai berfikir.. jangan-jangan sebentar lagi lampu-lampu akan segera dimatikan.. melalui remang rembulan tanggal 7 Jumadilakhir akan terlihat debu-debu meliuk beterbangan di udara.. lalu terdengar derap kuda yang ditunggangi oleh sleepy hollow (dramatis.. gak usah terlalu serius =D) Setelah berjalan kira-kira 2 km, ada seseorang di halte yang bisa ditanyai, ada 2 kabar baik dan buruk ternyata. Kabar baiknya arah kami benar, bukan arah yang sesat. Kabar buruknya, masih 2 km lagi!! setelah makan, karena ga mau otak keriting karena naek angkot dengan musik ajeb-ajeb yang dahsyat (saya ga tau kenapa orang Pekan Baru menganggap musik yang paling prestisius adalah musik ajeb-ajeb dengan syair dangdut ala trio macan) akhirnya kami pulang jalan kaki lagi!! praktis plus jalan di sore harinya kami jalan sekitar 9 km lagi!! Kesimpulan : Menurut instruktur gym-nya Ade Rai yang pernah ceramah di kantor, efek fisik jalan kaki adalah membentuk perut yang rata dan pantat yang bulet, jadi, anda tidak perlu heran kalau perut saya rata dan pantat saya bulet, kalo pengen, jalan kaki aja =D hidup jalan kaki!! ------ * YBS : yang bersangkutan
Demonstrasi seperti Kumbokarno, raksasa tidur, yang dibangunkan oleh kenaikan BBM. Bukan hal yang sederhana, demonstrasi merupakan hal kompleks, dengan berbagai elemen pendukung yang memiliki sudut pandang masing-masing.. Sudut Pandang Mahasiswa 1. Ini adalah jihad kita, ikhwah fillah.. kita berjuang untuk ummat.. Fasyhad ya, Rabb!! 2. Sekalian jalan-jalan sore.. sukur-sukur kalau dapet kecengan.. 3. Ini merupakan kontribusi kita untuk rakyat kecil, sodara-sodara.. kita ingin demokrasi!! kita ingin kepemimpinan komunal!! Mau apa kamu polisi?? sok jago?? kami tidak takut!! makin rusuh, makin Heroik perjuangan kami!!  Sudut Pandang Preman Bodo amat lah, yang penting Bendera kita BERKIBAR!!!  Sudut Pandang Aktivis Kita rakyat kecil, dari dulu ditindas.. ini adalah momen pembebasan!! Bangkit!! Lawan!! Kudeta!! Sudut Pandang Gelandangan Lumayan, Le.. hari ini emak bisa dapet botol akua banyak.. lumayan kalo dijual ke pengepul sampah, kita bisa makan enak malem ini, Le.. Sudut Pandang Reporter Bad news is good news guys, we'll get a great news today!! tapi, gw juga manusia khan.. udah ah, stop press, gw lagi laper.. sorry ya..  Sudut Pandang Aparat Keamanan Demonstrasi itu mengganggu stabilitas, mengganggu ketertiban. Tugas kami hanya menjaga ketertiban, siapapun yang melanggar ketertiban, kami wajib menindak!  Last, but not Least.. Sudut Pandang Penulis.. Demonstrasi itu aksi lisan menyuarakan aspirasi, tujuan utamanya adalah, agar aspirasi kita didengarkan, selanjutnya dipertimbangkan dalam sidang dewan wakil-wakil rakyat. Demonstrasi itu bukan perang! we need no weapon in demonstration!! dan demonstrasi (yang dewasa) itu bukan untuk memancing peperangan antar pihak manapun. Demonstrasi itu batasannya adalah wacana, penyebar luasan isu populer, bukan ajang untuk bentrok! Tidak akan pernah ada solusi langsung yang didapat dari demokrasi. Solusi yang paling baik adalah kudeta, tetapi kudeta hanyalah penggeseran masalah, tidak ada masalah yang selesai hanya dengan kudeta tanpa follow up. Seorang mahasiswa, ketika dia berdemonstrasi, walaupun dia hanya seorang mahasiswa dari universitas yang baru dikenal khalayak karena bentrok dengan polisi, dia mewakili nama besar seluruh mahasiswa, ironisnya termasuk mahasiswa-mahasiswa ber-IQ di atas rata-rata (baca: Lulus SPMB) yang akhirnya ikut serta mendapat citra buruk akibat ulah mahasiswa universitas "kabur kanginan" tadi (padahal harusnya dimaklumi, karena hanya segitulah kemampuan berpikir mereka, lha wong SPMB aja nggak lulus) Demonstrasi adalah salah satu bagian dari demokrasi, dimana bagian yang lain adalah hukum. Mengganggu ketertiban rakyat banyak dalam rangka demonstrasi (contoh: bikin macet, bikin huru-hara, meresahkan masyarakat) bukanlah hal yang bisa dimaafkan oleh hukum, mari kita berfikir makro, kalau kita bicara atas nama demokrasi, bicaralah atas nama demokrasi seutuhnya, bukan parsial. Pesan Moral : Demonstrasi tanpa karya nyata adalah Bull Shit (Taik Kebo), bagaimana kita bisa berkarya nyata? be maximal and optimal sebagai apapun anda, plus tumbuhkan kesadaran anda, kalau anda lakukan itu semua, bukan hanya untuk self-ambition, tetapi juga karena anda sebagai Bangsa Indonesia! ---- Foto diambil dari kamera penulis, oleh penulis sendiri dalam moment demo kenaikan BBM, 21 Mei 2008 Buat yang wajahnya terpampang di Foto-foto di atas, please.. anda jangan Ge-Er, foto itu saya pasang hanya biar tulisan saya terkesan dramatis, tidak ada hubungannya dengan wajah anda yang terpampang di foto itu.. pisss =)
Bulan kemaren saya mulai membaca kultur sebuah negara di Eropa timur, yang kata temen saya sangat menarik untuk dipelajari. Sebenernya rencana untuk traveling ke sana udah mateng banget, sayang, tarvel agent harus membuat saya kecewa (halah, dramatis.. ). Be focused, kita persempit pembicaraan pada ibu kota negara tersebut. Prague, ibu kota Republik Ceko. Charles Bridge merupakan icon dari kota ini. Sebuah jembatan yang menghubungkan kota tua dan kota lama. Dari angle yang berlawanan, view Charles Bridge dapat dilihat pada gambar di bawah ini.   See? sangat kontras. Jembatan penghubung antara dua kota dengan atmosfer yang sangat berbeda. Di satu sisi kota tua yang terlihat agung, di sisi lain kota dengan arsitektur modern. Ini tulisan induktif, kesimpulan akan diambil di akhir. Kita beralih ke monumen yang sangat terkenal, Arc de triomphe. Monumen yang dalam bahasa Indonesia berarti "lengkung kemenangan" ini dibangun ketika pasukan Napoleon memenangkan perang. Di monumen tersebut terukir nama-nama prajurit yang ikut serta dalam peperangan, serta dinyalakan lentera-lentera api untuk mengenang prajurit-prajurit yang tidak dikenal. Di sudut lain di Benua Biru, di alun-alun kotaLondon, ada patung pahlawan tak berlengan kanan, Horatio Nelson. Mr. Nelson ini adalah komandan pemenang perang Inggris vs Perancis, Battle of Trafalgar yang terjadi di Selat Inggris. Setelah membaca dan mendengarkan ensiklopedi sejarah bangsa-bangsa tersebut, saya kembali ke dunia nyata di Indonesia. Secara otomatis komparasi pun terjadi. Dari peta Jakarta tempo doeloe yang didapat ketika ikut Jakarta Trail, terlihat betapa sistematis dan indahnya Jakarta pada jaman penjajahan dengan sungai ciliwung yang masih bersih. Setelah Belanda dan Jepang angkat kaki dari Indonesia, 63 tahun kemudian, Planologi kota pun berubah total. Pembangunan bendungan kanal dilupakan. Mungkin karena planologi buatan penjajah haram untuk dilanjutkan. Planologi-planologi baru dikembangkan, Wajah jakarta pun berubah total menjadi kota langganan banjir. Borobudur dengan dimensinya yang ultra-sized ditemukan oleh arkeolog asing dalam keadaan tertimbun! pun demikian dengan Prambanan. Tanah Jawa yang pernah dipimpin oleh kekuasaan Mataram Kuno, Kediri, Tumapel, Singasari, Majapahit, dan Mataram Baru (Yogyakarta dan Surakarta tidak saya hitung karena memimpin dibawah kangkangan Penjajah). Berapa biji peninggalan yang tidak ditemukan oleh arkeolog? Salahkah kalau dibilang bangsa ini adalah bangsa penghancur yang traumatis atas kekuasaan yang pernah mengekangnya. Traumatis yang mendorong mereka untuk menutup mata sama sekali terhadap apa yang pernah terjadi. Mencoba melupakan dengan menghancurkan secuilpun apa yang pernah ditinggalkan oleh penguasa sebelumnya dan membangun lagi semuanya dari nol. Hasilnya? ya, kita berlari di atas tread miles. Mungkin kita harus belajar dari Prague, membangun tanpa menghancurkan. Point kedua, Perancis dan Inggris juga pernah mengalami revolusi, pergantian kekuasaan, pergantian bentuk pemerintahan, tetapi pahlawan tetap dikenang dengan agungnya terlepas pada pemerintahan siapakah sang pahlawan tersebut hidup. Kadang-kadang saya berpikir, siapa saja orang-orang yang terlibat dalam penaklukan nusantara di bawah pimpinan Tumenggung Nala dari Majapahit? sayang, Arc de Triomphe di Indonesia cuma dibangun di Kediri, itupun baru tahun dua ribu sekian kemaren di Proliman Gumul =D. Mungkin kita harus belajar menghargai jerih payah seorang pahlawan untuk mencapai kejayaan. Pertanyaan selanjutnya (mudah2an tidak terjadi), mungkinkah Tugu Monas, Stadion senayan, Patung Selamat Datang, Patung Pancoran dan jalur busway akan dihancurkan juga ketika Jakarta ditundukkan oleh kekuasaan baru? ---- gambar saya search di google dengan kata kunci,"charles bridge prague", "arc de triomphe" dan " horatio nelson" Info lain bisa diakses di wikipedia
 | 5 vs 1 | May 20, '08 1:30 PM for everyone |
Metoda ilmiah merupakan suatu urutan bagaimana menyelesaikan masalah secara ilmiah (baca: pakai otak -pen). Secara sistematis, menyelesaikan masalah pakai otak melalui langkah-langkah sebagai berikut 1. Karakterisasi : menemukan masalah, dilakukan dengan pengamatan dan pengukuran 2. Pembentukan hipotesa (dugaan sementara) 3. Prediksi hipotesa (penarikan kesimpulan logis dari hipotesa) 4. Pengadaan eksperimen (percobaan untuk membuktikan teori) 5. Evaluasi (pengujian ulang) dan menetapkan solusi. Fenomena yang terjadi sekarang adalah ketika orang-orang merasa bangga ketika dia menemukan masalah. Menemukan masalah memang bagian dari karakterisasi yang merupakan langkah awal metode ilmiah. Tapi menemukan masalah saja jelasnya tidak cukup, karena tujuan akhir metode ilmiah adalah memecahkan masalah, bukan menemukan masalah. "Sodara-sodara, lihatlah bangsa kita sekarang sudah berantakan!! harga BBM naik!! minyak tanah dan gas menjadi langka!! (kemudian pembicara membacakan statistik sampai 30 angka dibelakang koma) Bagemana ini sodara-sodara?? Bagemana?? Lalu?? Lalu??" si pembicara pun tersenyum jumawa seolah-olah dengan menemukan masalah dia sudah menjadi pahlawan besar jenderal bintang lima kayak Pak Soedirman. Lalu semuanya hening.. hening.. terdengar isak tangis dari orang-orang tercinta.. tapi mulut terkunci, kata tidak ada lagi, tinggal amal perbuatan dan hafalan Qur'an yang menemani kita, dan tanah pun mulai menimbun sedikit demi sedikit.. gelap, lalu terdengar suara menggelegar "Man Rabbuka??" (lha? kok jadi ngomongin ajal? ;garuk2; ) Tapi ga papa, intinya walopun sudah ditemukan masalahnya, sampai ajal menjemput-pun (nyambung khan?? hehehehe) masalah tidak akan terpecahkan. Now you can see.. you just reach the step no. 1!! not yet reach the step no.5!! Pesan Moral : Jangan berhenti sampai sekedar menemukan, sodara-sodara.. tapi pecahkan!! hancur-leburkan!! ganyang!! (stop..stop..stop.. berlebihan..) intinya, berpikirlah solutif!! jalankan metode ilmiah: temukan, duga, buat logika, uji, pecahkan!! Jadilah pemberi cahaya ilmu pengetahuan walaupun itu cuma teorema solusi, bukan melulu menjadi peminta cahaya. --- Urutan metode ilmiah diambil dari wikipedia Gambar diambil dari glowgadgets.com
 Well I held you like a lover Happy hands and your elbow in the appropriate place And we ignored our others, happy plans For that delicate look upon your face Our bodies moved and hardened Hurting parts of your garden With no room for a pardon In a place where no one knows what we have done Malam itu, di Bandung..Pasangan kekasih, di depan saya meninggalkan mejanya dengan sisa-sisa nasi goreng dan es jeruk. Lalu datanglah sekelompok anak jalanan meminta belas kasihan. Saya tolak, karena memang tidak ada receh. Sesaat kemudian saya terkejut bukan main, ketika salah seorang dari mereka berteriak, "Nasi goreng!!" dan serta merta membawa nasi sisa di meja depan saya dan menyerbunya ramai-ramai di balik tenda.. Belum hilang rasa kaget saya, salah seorang dari mereka memekik lagi, "Es jeruk!!' dan iterasi pun terjadi. Mereka menyerbu es jeruk sisa di depan meja saya beramai-ramai.. Dalam hati saya mulai bertanya, mereka kah "the accidental babies" yang mulai tumbuh menjadi manusia? manusia macam apa? Well you held me like a lover Sweaty hands And my foot in the appropriate place And we use cushions to cover Happy glands In the mild issue of our disgrace Our minds pressed and guarded While our flesh disregarded The lack of space for the light-hearted In the boom that beats our drum Keesokan harinya, masih di Bandung Seorang bayi, tergeletak di trotoar, tidur ditemani kaleng kosong Hati saya pun bertanya lagi, Kamu kah "the accidental babies" itu? Do you come Together ever with him? Is he dark enough? Enough to see your light? Do you brush your teeth before you kiss? Do you miss my smell? And is he bold enough to take you on? Do you feel like you belong? And does he drive you wild? Or just mildly free? What about me? Hari yang sama selepas senja di jatinegara Seorang bayi tidur di lantai peron, sendirian, terabaikan and the wind blowing over his pantyless balls.. Masih pertanyaan yang sama, Kamu kah "the accidental babies" itu? Well I know I make you cry And I know sometimes you wanna die But do you really feel alive without me? If so, be free If not, leave him for me Before one of us has accidental babies For we are in love Setragis itukah kehidupan ini? ketika orang-orang yang dianggap dewasa mencari puncak kepuasan mereka, tanpa sadar bahwa mereka mempertaruhkan satu generasi. Yang selanjutnya terabaikan, tersia-siakan, mempertanggungjawabkan kesalahan orang tuanya? "Masih mending mereka tidak diaborsi ketika masih dalam kandungan".. benarkah hidup sebagai "accidental babies" lebih baik daripada tidak dilahirkan sama sekali? Sebandingkah kepuasan itu untuk dibayar dengan kehidupan sebuah generasi, yang akan menjalani kedewasaan sebagaimana kedewasaan orang-orang tua mereka? Terlalu mahal.. terlalu mahal.. Ketika alasan religi tertolak dengan kilah "sok suci", ketika alasan kesehatan tertolak dengan kilah "kontrasepsi", saya harap alasan kemanusiaan tidak akan tertolak dengan kilah apapun. Pesan Moral : watch your "cock" and "pussy" out! its pleasure only will never worth to be payed by a loss generation ----- Italic : Accidental babies by Damien Rice
Pada suatu hari menjelang siang, seseorang mengajak saya diskusi. Bukan, bukan tentang modern physics, quantum mechanic, potential well, atau postulatnya Mr. Schrodinger yang membawakan nobel untuk Universitas Vienna. Topik kami waktu itu tidak kalah seriusnya, yaitu "Life after Death" (Kehidupan setelah Kematian, bahasa-pen) Life after Death dalam diskusi kami dikaitkan dengan posisi tingkat energi yang dimiliki manusia. Intinya seperti ini, manusia, saya, anda, Rose Byrne, Evan Sanders, Eva Green, Ben Affleck, bisa saling berinteraksi satu sama lain, disebabkan karena kita berada dalam bandwidth tingkat energi yang sama. Komparasinya, jin gundul, gedibal nyi roro kidul, tuyul, gendruwo gondrong, wewe gombel, hantu kereta manggarai, hantu ambulance dll. yang (umumnya) tidak bisa berinteraksi dengan manusia karena mereka berada di bandwidth energi yang berbeda. Kematian, menurut kawan diskusi saya tersebut merupakan fenomena perpindahan tingkat energi, dari bandwidth energi manusia hidup, ke bandwidth energi alam barzah, ke bandwidth energi alam akhirat. Terus apa itu surga dan neraka? Saya jadi ingat, suatu penjelasan logis, bahwa energi itu kekal, tidak bisa diciptakan maupun dimusnahkan, hanya bisa berubah dari bentuk satu ke bentuk lainnya. Sedangkan yang merubah energi dari satu bentuk ke bentuk lain tersebut adalah event, dan salah satu event adalah perbuatan manusia. Maka dari itu, ayat tentang pencatatan amal baik dan amal buruk, tidaklah menjadi suatu hal yang absurd, karena tinggal dilihat dari hystorical data perubahan energi yang memang kekal tersebut. Perbuatan yang baik, akan menambah positive energy bank kita, sedangkan perbuatan yang buruk akan menambah negative energy bank yang mengimbangi positive energy bank. Selisih energy bank tersebut merupakan nilai energi aktivasi kita yang akan melompatkan kita ke bandwidth energi selanjutnya. Semakin positif nilai energi aktivasi itu, semakin tinggi lah bandwidth energy yang akan kita tempati. dan semakin negatif nilai energi aktivasi itu, semakin rendah lah bandwidth energy yang akan kita tempati. Semakin tinggi bandwidth yang ditempati, maka efeknya semakin nikmat. Sebaliknya, semakin rendah bandwidth yang ditempati, efeknya semakin sengsara. Logis.. Then, apa sih yang bisa menaikkan positive energy bank kita? dalam hal ini Dzat pemilik energi tertinggi sudah menjelaskan didalam kitab-Nya, dan efektif terbukti, pelaksana tips n trick Sang pemilik quanta energi tertinggi itu akhirnya menjadi manusia-manusia yang berwibawa, disegani, dihormati tanpa dia meminta ke orang lain. Apa artinya? dengan wibawa yang dimilikinya, si pelaksana tersebut terbukti memiliki positive energy bank yang lebih tinggi dari orang kebanyakan. see? =) So, what should we do? just increase your positive energy bank level!! Caranya? amar ma'ruf nahi munkar, amilu sholihat, wattawa shoubil haq, wattawa shoubish shobr wallahua'lamu bish showab "Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, dan bergantinya siang dan malam ada tanda-tanda bagi golongan Ulil Albab, yaitu golongan yang mengingat Allah ketika ia berdiri, duduk dan dalam keadaan diatas lambungnya (berbaring) kemudian mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (kemudian mereka berkata) Ya Allah, sesungguhnya tidak ada yang Kau ciptakan untuk kesia-siaan" Bahkan hidayah pun bisa datang dari diskusi saya dengan orang yang (nyaris) atheis, subhanallah.. =)
Just a message from a mother to her son.. (quote started) If you stay in Larissa, you will find peace. You will find a wonderful woman, and you will have sons and daughters, who will have children. And they'll all love you and remember your name. But when your children are dead, and their children after them, your name will be forgotten... If you go to Troy, glory will be yours. They will write stories about your victories in thousands of years! And the world will remember your name. But if you go to Troy, you will never come back... for your glory walks hand-in-hand with your doom. And I shall never see you again. (qoute finished) so, Do you know what I mean? ---- quote taken from Troy (2004)
posting ini ditulis karena udah dikejar-kejar ama "Oknum berikut". Daripada si oknum bertindak "atractive-destructive", mendingan diposting aja deh.. =p Setelah "Oknum yang mirip jin gundul gosong" tiba-tiba membatalkan ikut Jakarta trails dan membelot untuk ikut rafting kantor, yang tersisa adalah, struk transfer yang berisi 4 tiket, 2 orang peserta (saya dan "Oknum berikut" ), dan sebuah email berisi alamat: "Kumpul di Museum Bank Mandiri Jl. Lapangan Stasiun No.1 Jakarta Barat 11110 (Depan Stasiun Bus Transjakarta Kota)" Berangkat dengan amunisi lengkap untuk walking travel, kesialan pertama adalah Jalan Jenderal Sudirman ditutup karena Car Free Day, jadi saya musti muter ke Slipi dan lewat gang-gang sempit. Sesampai di rumah Pakde si "Oknum berikut" ternyata si "Oknum berikut" baru selesai mandi, padahal ketika di sms, "udah siap khan?" dia jawab "sudah! =D" (pissss!!) Kami pun nyetop taksi, sesuai alamat saya sebut aja, "Museum Bank Mandiri, pak.. Depan Terminal Trans Jakarta, Jakarta Barat" si Sopir betawi dodol pun menjawab, "halte busway banyak, mau turun di yang mana?" saya jawab lagi, "Museum Bank Mandiri (DODOL!!!) terminal Busway, bukan halte (DODOL LAGI!!!) di Jakarta Barat (LAGI-LAGI DODOL!!!!)" keterangan: yang di dalam kurung cuma disebut dalam hati =p Ee, belum selesai, si sopir njawab lagi, "Terminal busway di Jakbar itu cuma di Kalideres" gw ngubungin si Jin Gundul, HPnya dimatiin akhirnya kami ambil rute ke Slipi siap-siap belok kiri ke kalideres. Untungnya kali ini si "Oknum berikut" cerdas, dia nelpon temennya yang lagi trening di Bank Mandiri. Akhirnya setelah ke arah yang benar, kami oleh sopir itu diturunkan di BANK MANDIRI!! (ga pake museum), masih 200 m lagi ke museum.. Nah, sekarang terjawablah, mengapa pariwisata Indonesia kurang laku, karena ketika Turis-turis mancanegara ingin ke Museum Bank Mandiri, oleh sopir taksi Indonesia malah dianter ke Terminal Kalideres. Pesan Moral : Belajarlah yang rajin, anak2 muda.. perluas wawasan, dan pertajamlah kemampuan untuk mendengarkan orang laen.. (omong opo kie??) Museum Bank Mandiri (dulunya Factorij Nederlansce Handel Maatchappij atau NHM) di sana kami nonton film jadul item putih sampe kami berpikir, jangan-jangan cuma nonton aja nih acaranya? ga seru banget?? ternyata si empunya Komunitas Historia dateng telat, akhirnya kami dibagi ke mahasiswa2 yang masih idealis untuk jadi guide kami, ya.. begitu deh kaya mbimbing adek2nya lagi ospek akhirnya.. Pesan untuk Komunitas Historia: Us the proportional guide, please.. Setelah kami keliling gedung NHM, kami menuju Museum Fatahillah (dulunya Balai Kota atau Staadhuis) di jalan setapak menuju Staadhuis, bangunannya sangat eksotis dan kebetulan ada pemotretan, produktivitas saya sebagai candid photographer akhirnya terbukti dengan foto berikut  candid booo'  Jalanan Stadhuisplein yang eksotis Di Staadhuis, saya menemukan kondisi identik pada jeruji penjara yang rangkap dua, hal ini juga ditemui di Benteng Pendem. Keunikan lainnya adalah Meriam Si jagur, karena di pangkal Meriam tersebut ada bentuk "Jempol Kejepit". Mitosnya, ketika anda sudah lama menikah dan belum dikaruniai anak, maka perut si calon ibu harus diposisikan tepat di tengah si "Jempol Kejepit"  Jeruji paranoia  Jempol Kejepit Perjalanan berlanjut ke Museum BI, yang lebih termanage secara modern, ada local guide yang udah masuk dalam entry tickets dan ada game-game modern. Di Museum ini saya jadi tahu bagaimana Nenek Moyang saya dulu melakukan transaksi.  Pesan Moral : Pilihlah Museum, Kebun Binatang, bumi perkemahan, taman bermain dan wisata kultural lainnya untuk educative weekend bagi anak-anak anda. Mall is not good for your kids. Ada satu pesan lagi nih..  Perjalanan diakhiri dengan melahap 4 potong roti buaya (masing-masing orang dapet jatah 2)
Pulang ke kotamu Ada setangkup haru dalam rindu Masih seperti dulu Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna Terhanyut aku akan nostalgi Saat kita sering luangkan waktu Nikmati bersama Suasana Jogja *)
Yes, here I came, in Jogja.. Kota yang tentu saja punya positif dan negatif yang telah menjadi rahasia umum.. Kita ambil sisi positifnya aja, saya bisa nginep 4 malem cuma-cuma di Hyatt Regancy (bintang 5 coy.. kayak Jend. Sudirman, Pak Harto sama Pak Nasution =p) Di sela-sela agenda raker yang padat, saya masih bisa wisata budaya di kawasan Jogja, Begitu sampai di Hyatt, saya minta travel map ke mbak resepsionis, trus kenalan ama sopir taksi dari karawang, yang kemudian nganterin saya ke candi Prambanan. Kisahnya dapat di lihat di SINI. Sebuah candi yang terkenal dengan hikayat Roro Jonggrang-Bandung Bondowoso. Foto-foto lengkap dan statement yang ingin saya sampaikan ke mbak Roro Jonggrang bisa dilihat di SINI.  inilah wujud patung mbak Roro Jonggrang Hari-hari di jogja mayoritas habis oleh agenda rapat kerja yang melibatkan para manager dan superintendent dari seluruh oil company di Indonesia, seperti kegiatan fire fighting di Cilacap minggu lalu, saya jadi satu-satunya peserta under 25, sedangkan yang lain udah pada upper 35. Tapi ga papa, itung-itung kenalan ama calon-calon boss baru, hehehehe Kalau ke Jogja, belum lengkap kiranya kalau belum mengunjungi  Eh salah.. geser dikit, maksudnya ini..  Malioboro,Dab!! jalanan yang isinya penjual-penjual cindera mata khas jogja yang setiap membeli kita harus menawar habis-habisan karena harga yang dibilang 100% hasil mark up. Jalanan yang tukang becaknya walaupun sudah dibilang "mboten" (tidak) masih mengejar-ngejar terus, merayu-rayu terus, sampai pengunjung merasa jengah dan risih. Jalanan yang dipenuhi karakter yang tercermin dari bentuk blangkon, "Mbendol mburi, apa yang disampaikan tidak sesuai dengan apa yang ada dalam nurani, muka boleh senyum, tapi hati ngedumel" jujur aja, saya kurang suka dengan karakter budaya seperti ini. Btw, ada sedikit foto-foto dari malioboro yang bisa dilihat di SINI.  Blangkon Jogja, Mbendol Mburi Saya juga sempat ngunjungin Taman Sari, dibangun tahun 1858-1865, terdiri dari pemandian selir-selir keraton (selir sultan pertama sampai 40 orang kata guide-nya) dan menara pengintip untuk sultan. Selain itu ada bangunan tinggi yang bisa melihat seluruh kota Jogja di atasnya, serta terowongan yang dulunya bawah air. Sangat disayangkan, cagar budaya semegah ini tidak boleh dipugar pasca gempa yang membuatnya cukup berantakan. Hal yang disayangkan juga adalah tempat tinggal penduduk yang terlalu rapat dengan cagar budaya ini, sehingga aksen kemegahannya berubah menjadi kumuh dan kurang menarik. Tenang, sodara-sodara, mbak bule ini ga akan mandi di pemandian selir.. pemandian ini sudah tidak digunakan sejak Sultan ke-3, ga perlu ngeliatin foto ini lama2.. hehehe Patut diwaspadai juga, buat para traveler.. di resort Taman sari ini ada bisnis pemandu wisata yang sudah punya agen, jadi ketika anda masuk ke Taman sari, wajib hukumnya pake pemandu. Tips-nya: Tanyalah harga pemandu sejak awal! sehingga ada kesepakatan harga. Jika tidak, at the end of the tour, anda akan ditarik nominal yang besar tanpa bisa menolak, karena service sudah dilakukan. Foto-foto bisa dilihat di SINI. Yang juga berkesan di Jogja adalah bertemu dengan kawan lama, Bersama-sama kami mencicipi Sego Kucing di Angkringan khas Jogja dan makan duren di depan gedung TVRI Jogja.  Pada hari selasa malam, diadakan Gala Dinner di area swimming pool hotel, di sana semua jenis makanan khas Jogja dihidangkan dengan sangat mewah. Sejenak saya flash back ke tahun-tahun yang sudah berlalu, Ketika belajar semalam suntuk karena harus ujian semesteran, trus kelaperan, mau beli gorengan Rp 1000 musti ngumpulin receh ratusan demi ratusan, ee ternyata cuma ada Rp 900, kemudian aksi bongkar kolong tempat tidur pun dilakukan, dan penemuan kepingan ratusan terakhir pun menjadi seperti penemuan harta karun tidak ternilai, hehehe, dasar kere lu, Bram =p Intinya semua harus disyukuri jadi malem itu saya cuma ngambil dikit aja, tidak terburu nafsu, tapi rata semua menu,hehehehe... Pesan moral buat anak muda: Belajarlah yang giat, anak muda... niscaya hidupmu akan enak!! Yang istimewa juga adalah event ini banjir suvenir! total, saya dapet 1 tas gran Polo, 1 jaket Boss classic, 1 USB 2GB, 3 USB @ 1GB, 3 kaos, 1 topi, 1 jam duduk digital, alat-alat tulis, dan buku-buku agenda. hehehe, minggu besok bisa jualan di tanah abang =p *) Yogyakarta by Kla Project
Surabaya-Jogja kutempuh dengan kereta Sancaka. Lancar-lancar aja. Tapi beruhubung cuapek banget semalem ga tidur pas pendakian, aku sempet amnesia ketika terbangun di stasiun Jombang. Sampai detik demi detik rangkaian peristiwa bisa kurangkai kembali. Sesampai di Jogja dan Cilacap, ada satu hal yang perlu kugarisbawahi!! Orang Jawa Timur dan Jawa Tengah itu BERBEDA KARAKTER!! East Javanese biarpun lebih kasar secara lingua franca, tetapi terus terang, apa adanya, dan jujur. Sangat berbeda dengan karakter orang Central Javanese yang dari muka ramah, senyum, boso kromo alus, “njogo wibowo” tapi niat menipunya di mana-mana. Udah gitu, modus penipuannya juga sangat gampang ditebak, dan mereka ngejar-ngejar terus untuk mendapat simpati (baca= menjebak kita dalam tipuannya). Aku ga cuma nemuin sekali kasus seperti ini sampai bisa melahirkan postulat ini. Saranku buat traveler yang menjadikan wilayah jawa tengah sebagai tujuan traveling, bertanyalah hanya kepada polisi atau petugas hotel atau petugas stasiun. dan jangan sekali-sekali bertanya pada orang umum di jalan. Anda akan dianggap sasaran empuk oleh mereka!! Saran Kedua, Ketika dikejar-kejar orang yang “ngajak ngobrol”, bukalah HP anda, pergi ke toilet, lebih baik jika anda ambil wudhu dan sholat, karena yang ada di mushola biasanya orang-orang baek dan bisa ditanya dengan lebih aman =) Jadi sekarang anda tahu betul khan? Kenapa Jawa Tengah tenggelam dalam kemajuan Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur? (ini pertanyaan retoris, jawabannya udah pasti iya, kecuali kalau anda Imbisil atau Idiot.. atau gila, hehehe) Di Cilacap, tujuan utama kami adalah Fire Fighting. Walaupun sebenernya api itu bisa dicintai. Mencintai api harus menjadi jilat, mencintai air harus menjadi ricik, mencintai angin harus menjadi siut, mencintai cakrawala harus membentang jarak, Mencintaimu harus menjelma aku..*) (Pak Sapardi pasti muntah mbaca ini, hehehe)  Di Cilacap, objek yang sempet kukunjungi adalah: Teluk Penyu. Teluk ini menghadap ke pantai selatan jawa (rumahnya nyai roro kidul dan gedibal-gedibalnya =p). Dari teluk ini dapat dilihat Alcatraz ala Indonesia, alias Nusa Kambangan. Foto-fotonya bisa dilihat di SINI  Batur Raden. Di siang hari, tempat ini adalah wana wisata di lereng gunung Slamet (yang dari buku geografi disebutkan kalau memiliki curah hujan tertinggi di Indonesia). Ada pemandian air panas dan pemandangan hutan yang eksotis. Kami tiba di Batur Raden ketika malam hari. Karena pas malam hari itu gelap, dan hutannya ga keliatan, maka focus wisata di sini pun berubah. Yang di pajang di warung2 adalah benda-benda seperti..  Ya, u know lah tempat apa ini.. So 2 jam gw nganggur, sembari menunggu temen2 yang pada “ngamar” gw hanya menghabiskan waktu dengan kamera mode diafragma F.8 dan setting shutter 10 detik. Hasil potretannya bisa dilihat di SINI Benteng Pendem. Dibangun tahun 1877. letaknya di tepi pantai Teluk Penyu, lebih dekat ke pulau Nusa Kambangan. Aku ke tempat ini sendirian, nyampe jam setengah lima sore dan lagi mendung. My God ini mah uka-uka!! =D, dengan sedikit merinding juga, aku berhasil juga hunting. Silakan lihat di SINI.  ---- *) sajak kecil tentang cinta by Sapardi Djoko Damono
| |